Medan – Persiapan tim Elite Pro Academy (EPA) PSMS Medan menuju EPA Championship U-19 2026 memicu perdebatan hangat di kalangan pecinta sepak bola Sumatera Utara. Sorotan tajam tertuju pada komposisi skuad muda Ayam Kinantan yang kabarnya didominasi oleh talenta dari luar daerah, alih-alih memaksimalkan potensi putra daerah Sumut.
Tim pelatih di bawah komando Kas Hartadi sebelumnya menggelar seleksi di dua lokasi berbeda, yakni Jakarta dan Medan. Hasilnya menunjukkan ketimpangan yang cukup mencolok; 18 pemain terjaring dari seleksi Jakarta, sementara hanya tujuh pemain yang lolos dari seleksi di Medan. Kondisi ini memicu kritik keras karena Sumut selama ini menyandang predikat sebagai lumbung pesepak bola berbakat di tanah air.
“Saya sangat menyayangkan management PSMS mengabaikan potensi daerah untuk membela PSMS dikompetisi EPA”, kata Sari Azhar Tanjung via pesan wasthap, Sabtu (14/3).
Bukan cuma itu, Sari Tanjung bersama H Sunarto Fajar pemilik klub Pratama, Sumitro (Sahata), Sumardi (Medan Utara dll nya menyebut kan, beberapa klub anggota PSMS sangat menyesal kan PSMS U19 tak melibatkan anak-anak Medan dan sekitarnya untuk mengikuti seleksi U19, padahal sebagaimana biasanya management PSMS itu mengundang klub anggota PSMS untuk mengirimkan pemain pemain U19.
“Kebiasaan seperti sebelumnya pemain yang ikut seleksi tersebut dapat rekomendasi dari klub anggota PSMS ditambah lagi dari diluar klub anggota PSMS sesuai kriteria tim seleksi”, kata Sari Azhar Tanjung
Pria yang pernah membela psms Medan menyatakan PSMS tidak lepas dari peran klub yang membesarkan nama PSMS. Untuk itu management PSMS jangan sesuka hati saja mengotak ngatik PSMS yang juga dimiliki masyarakat Medan dan Sumut
“Klub anggota PSMS pada saat ini masih tetap pemilik PSMS sesuai dengan AD/RT. Oleh karena itu setiap yang membawa nama PSMS selama ini harus dapat rekomendasi dari klub anggota PSMS. Herannya baru kurang lebih 10 tahun inilah PSMS itu dikotak katik oleh oknum yang seolah olah memiliki PSMS. Kami klub anggota PSMS sangat menyayangkan bagaimana PSMS tak berprestasi dan naik turun terus didalam liga belakangan ini. Kenapa? Ini tidak lain karena managemen tidak menghargai klub anggota PSMS yang mana selalu dikecilkan bahkan ditiadakan seolah olah PSMS itu tidak ada berasal dari klub dia berdiri sendiri.
Apabila PSMS mau sukses coba management itu harus duduk sama dgn anggota klub psms,bicarakan bagaimana untuk kedepannya agar PSMS ini tidak terganjalkan prestasinya untuk kedepan. Kita tidak tau kenapa terus begini nasib PSMS karena sepak bola disamping teknis non teknispun harus kita lihat juga”, ujarnya
Herannya baru kurang lebih 10 tahun inilah PSMS itu dikotak katik oleh oknum yang seolah olah memiliki PSMS.
Harus nya juga management menghargai para pendiri pengurus pemain PSMS era era terdahulu sebelum sistim sepak bola ini berbentuk profesional karena PSMS ini punya nama dan disegani di Indonesia sebelum liga berputar.
Sebelum nya Presiden Direktur PSMS Medan, Fendi Jonathan, menegaskan bahwa pemilihan pemain murni berdasarkan kualitas teknis dan kesiapan di lapangan. Menurutnya, tim pelatih memilih mereka yang paling siap mengingat waktu persiapan yang sangat mepet. Ia juga meluruskan bahwa banyak talenta muda asli Medan yang tidak bisa memperkuat tim EPA karena sudah terdaftar di kompetisi Liga 3.
Manajemen PSMS menegaskan keikutsertaan tahun ini lebih bersifat pemenuhan kewajiban kompetisi tanpa memasang target muluk-muluk. Fendi menyebut pihaknya baru akan merancang program pembinaan infrastruktur yang lebih matang, termasuk mes dan fasilitas latihan, pada musim depan jika kondisi Liga 2 sudah stabil dan target promosi ke Liga 1 semakin jelas. Untuk musim ini, target realistis hanyalah lolos dari fase grup.
” Kalau tak punya target kenapa harus pemain luar Sumut. Ini mengherankan, membawa nama PSMS tetapi anak daerah asal PSMS tidak ada mengisi untuk pemain pemain usia 19 sangat di sayangkan”, timpal Sunarto Fajar







