Medan – Menjadi tuan rumah bagi sebuah ajang internasional berskala besar dengan durasi panjang seperti kompetisi yang berlangsung selama kurang lebih 10 hari bukan sekadar tentang prestise di atas kertas.
Lebih dari itu, momentum ini merupakan stimulus kuat bagi roda perekonomian daerah, mulai dari sektor akar rumput hingga industri makro.
Di level akar rumput, dampak perputaran ekonomi langsung terasa secara instan. Lonjakan arus mobilitas menuju area venue pertandingan menjadi berkah tersendiri bagi para penyedia jasa transportasi lokal.
Sopir angkot trayek khusus, pengemudi ojek online maupun konvensional, hingga penarik becak mengalami peningkatan pendapatan yang signifikan berkat padatnya penumpang.
Tidak hanya sektor transportasi, geliat ekonomi juga dinikmati oleh para pelaku UMKM kreatif, seperti perajin konveksi jersey dan syal musiman yang panen orderan selama ajang berlangsung.
Sementara itu di sektor hulu, industri perhotelan dan akomodasi mencatat lonjakan tajam pada tingkat okupansi (occupancy rate). Tingginya angka hunian ini secara otomatis memicu rantai pasok baru, terutama melonjaknya permintaan bahan pangan dan logistik untuk kebutuhan operasional hotel.
Di luar keuntungan materiil yang terukur, kesuksesan gelaran ini membawa dampak jangka panjang berupa branding positif bagi kota penyelenggara.
Keberhasilan dalam mengelola arus massa dan logistik internasional secara otomatis mendongkrak reputasi daerah di mata publik, yang sekaligus menjadi rapor hijau bagi kepemimpinan kepala daerah yang menjabat.
Selain sektor utama, perhelatan internasional juga menciptakan dampak ekonomi tidak langsung (indirect impact) yang efek dominonya kerap baru terasa bahkan setelah seluruh rangkaian acara resmi ditutup.
Melihat besarnya potensi yang ada, keberhasilan ini tidak dapat bergerak organik begitu saja. Diperlukan sinergitas yang solid antara jajaran pemerintah daerah dan pihak penyelenggara agar tercipta hubungan kerja sama yang saling menguntungkan (mutualisme).
Pengamat kebijakan publik Rafriandi Nasution menilai, di sinilah visi seorang pemimpin daerah diuji. Pemimpin yang baik seyogianya mampu melihat peluang dari pihak luar, kemudian meramunya menjadi kebijakan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat luas.
“Menjadikan kota Medan sebagai panggung dunia adalah satu hal, namun memastikan seluruh lapisan warganya ikut merasakan dampak kesejahteraan adalah esensi utama dari sebuah kepemimpinan yang berhasil.”, sebut nya








