Medan – Demam Piala Dunia yang melanda dunia saat ini tidak hanya melahirkan kerumunan nonton bareng (nobar) di sudut-sudut Kota Medan.
Di Sumatera Utara, euforia turnamen sepak bola terakbar sejagat ini justru bertransformasi menjadi energi positif bagi bangkitnya pembinaan sepak bola usia dini (akar rumput).
Hasil pantauan di Medan, Deliserdang, hingga Karo menunjukkan lonjakan drastis jumlah anak-anak yang mendaftar untuk berlatih. Semangat meniru idola seperti Kylian Mbappé, Erling Haaland, hingga Lamine Yamal menjadi magnet kuat bagi anak-anak di Sumut untuk turun ke lapangan hijau.
Ketua Departemen Wasit PSSI Provinsi Sumatera Utara, Srigunana Tarigan, mengakui adanya dampak instan dari bergulirnya Piala Dunia terhadap psikologis para pemain muda.
“Anak-anak sekarang kalau datang latihan semangatnya berkali-kali lipat. Setelah menonton pertandingan Piala Dunia, sorenya langsung mencoba trik-trik pemain dunia saat berlatih di lapangan. Ini momentum langka yang harus kita manfaatkan,” ujar Srigunana Tarigan saat bersua di Medan.
Tidak sekadar berlatih biasa, beberapa SSB di Sumatra Utara bahkan mengadopsi format turnamen internal dengan menggunakan nama-nama negara peserta Piala Dunia. Langkah kreatif ini terbukti ampuh mendongkrak motivasi tanding anak-anak didik.
Melihat animo yang begitu besar, PSSI Provinsi Sumatra Utara bergerak cepat. Federasi memanfaatkan momentum demam Piala Dunia ini untuk menggulirkan festival sepak bola kelompok umur (U-10 dan U-12) Piala Presiden yang di rencanakan Juli mendatang.
Srigunana Tarigan menegaskan bahwa Sumatra Utara tidak pernah kehabisan bakat, namun tantangan terbesar selalu ada pada konsistensi kompetisi.
“Kita tahu Sumut punya sejarah panjang melahirkan legenda timnas seperti Egy Maulana Vikri atau Witan Sulaeman yang dekat dengan wilayah kita. Momentum Piala Dunia ini adalah saat yang tepat untuk menjaring ‘bakat terpendam’ dari pelosok daerah. Kita ingin anak-anak ini tidak hanya bermimpi melihat Piala Dunia, tapi bermimpi bermain di sana,” tegasnya.
Meski gairah sedang memuncak, para praktisi sepak bola lokal mengingatkan pemerintah daerah untuk memberikan perhatian lebih pada fasilitas. Lonjakan minat anak-anak ini sayangnya belum diimbangi dengan jumlah lapangan yang representatif dan berkualitas di tingkat kecamatan.
Dengan bergairahnya kembali sepak bola akar rumput berkat stimulus Piala Dunia, publik Sumatra Utara tentu berharap ini bukan sekadar tren musiman. Jika dikelola dengan kompetisi yang sehat dan fasilitas yang memadai, bukan tidak mungkin generasi emas timnas berikutnya akan lahir dari tanah Sumatra Utara.








