Medan – Perkembangan cabang olahraga bela diri di Indonesia khususnya Sumatera Utara terus menunjukkan yang positif. Selain cabang yang telah populer seperti taekwondo dan muay thai, kini mulai dikenal luas olahraga savate, sebuah bela diri asal Prancis yang mengedepankan teknik, strategi, dan kontrol.
Savate mulai diperkenalkan secara masif di Indonesia melalui berbagai kegiatan edukasi dan kompetisi yang digelar oleh Federasi Savate Indonesia. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap olahraga yang dikenal sebagai French kickboxing tersebut.
Savate memiliki karakteristik unik dibandingkan bela diri lainnya, yakni penggunaan sepatu khusus (chaussons) dalam pertandingan. Teknik yang digunakan mengombinasikan pukulan dan tendangan dengan presisi tinggi, sehingga menuntut keseimbangan antara kekuatan dan kontrol.
Olahraga ini aktif berkembang di berbagai provinsi melalui kepengurusan daerah dan turnamen seleksi.
Di Sumatera Utara, Federasi Savate Indonesia (FSI) Sumut telah resmi terdaftar di KONI Sumatera Utara untuk menjadi wadah atlet combat sport di wilayah ini.
Saat ini, ada 16 Kabupaten/kota terbentuk seperti Medan,Binjai,Langkat, Batu Bara,Asahan,Tanjung Balai,Karo,Siantar,Simalungun,Samosir,Toba,Tapanuli utara,Humbang Hasundutan ,Tebing Tinggi,Dairi, dan dimana apanuli Tengah
“Dari 22 mandat yang direkomendasikan sudah terbentuk 16 FSI Kabupaten kota. Ini cukup membanggakan dan mulai diminati berbagai kalangan.
Savate terbuka bagi siapa saja, termasuk atlet dari cabang bela diri lain karena tekniknya adaptif”, kata Ketua FSI Sumut, Rockyando Siahaan dalam pesan wasthap nya, Senin (22/6)
Bukan cuma itu, FSI Sumut mengagendakan serangkaian kegiatan
penataran wasit juri dan kejuaraan Provinsi akhir bulan juli 2026 ini serta sedang menyusun agenda
Kejuaraan Provinsi beladiri Savate se-Sumut “Piala Gubernur Sumatera Utara” di awal bulan Agustus yang bertujuan mencari langkah awal seleksi atlit SAVATE Sumut yang nantinya bisa mewakili Sumut di ajang nasional seperti program pusat terdekat adalah Kejurnas di Bali bulan November 2026 serta persiapan PON beladiri 2027 dan rencana eksibisi PON 2028
“Harapan saya FSI kab/kota bisa berkolaborasi dan mendapatkan perhatian dan dukungan dari KONI kab/kota serta pemerintah setempat dalam hal pengembangan olahraga beladiri ini karena beliau sangat yakin di sumut kita memiliki segudang atlit petarung Combat yang berpotensi dan di Savate terutama sangat optimis akan lahir dari Sumut ini atlit yang bisa berprestasi di nasional bahkan internasional nantinya”, pinta nya
Kejuaraan ini tidak hanya berfungsi sebagai ajang kompetisi, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan pembinaan atlet.
Panitia menargetkan peserta dari berbagai daerah di Sumatera Utara
“Lagi susun agendanya sebagai sarana pembinaan “, katanya
Selain itu, cabor Savate sedang diusahakan masuk exibition pada PON 2028. Kemudian tahun 2027 dipertandingkan pada PON beladiri di Kudus Jawa Tengah. “Yang terdekat dijadwalkan Kejurnas savate di Bali,, Nopember mendatang”, katanya
Meski terus berkembang, sebut Rocky, savate masih membutuhkan sosialisasi yang lebih luas agar dapat sejajar dengan cabang bela diri lainnya. Dukungan pembinaan, kompetisi berkelanjutan, serta edukasi kepada masyarakat menjadi kunci utama.
Ke depan, savate diharapkan dapat masuk dalam berbagai ajang multievent nasional hingga internasional, sekaligus melahirkan atlet-atlet berprestasi yang mampu bersaing di tingkat dunia.
“Dengan pendekatan edukatif dan pembinaan yang konsisten, savate berpotensi menjadi salah satu cabang olahraga bela diri yang berkembang pesat di Indonesia.”, ujarnya
Sebelum menahkodai Savate Sumut, Rocky Siahaan, pernah menjadi atlit PON membela Riau di cabor kempo Thn.2008
Kemudian, pernah melatih dan membawa atlit cabor kempo Sumut di POMNAS Makassar 2017 dan beberapa event kejurnas lainnya
“Terakhir saya pelatih sekaligus Ketua beladiri sambo Deliserdang dan atlit yang kita didik kemaren juga sudah tampil dan berprestasi di PON beladiri dan PON Sumut Aceh”, sebut nya








