Medan – Pengamat Sepak Bola Sumatera Utara, Boy Soni Batubara menilai peningkatan performa timnas Indonesia lawan Bulgaria di final FIFA Series masih dalam tahap proses awal.
Boy yang juga seorang pengusaha menekankan bahwa proses adaptasi masih berlangsung dan membutuhkan waktu. Timnas dinilai memiliki potensi berkembang lebih baik ke depan, termasuk menghadapi agenda turnamen berikutnya.
Timnas Indonesia kalah 0-1 dari Bulgaria dalam laga FIFA Series 2026 yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (30/3/2026).
“Skuad Garuda seharusnya keluar sebagai pemenang dalam laga final FIFA Series 2026 melawan Bulgaria.” Kata Boy Sony Batubara lewat pesan wasthap, Kamis (2/4)
Pada pertandingan kemarin dominasi mutlak Indonesia di atas lapangan. Berdasarkan data statistik dari Lapangbola, tim Garuda menguasai bola hingga 71 persen.
Dominasi tersebut rupanya belum cukup untuk menumbangkan tim tamu yang tampil jauh lebih klinis.
“Seharusnya menjadi kemenangan untuk Indonesia. Bulgaria adalah tim peringkat 80 dunia, tetapi menurut saya, kemarin Indonesia bermain lebih baik,” katanya
Meski menguasai jalannya pertandingan, efektivitas serangan menjadi persoalan serius bagi Indonesia. Dari sekian banyak peluang, Garuda hanya mampu melepaskan enam tembakan, satu di antaranya tepat sasaran.
Sebaliknya, Bulgaria tampil sangat efisien dengan mengemas sembilan tembakan, di mana empat di antaranya mengarah tepat ke gawang.
Adapun gol tunggal kemenangan Bulgaria lahir melalui eksekusi penalti Marin Petkov pada menit ke-38.
Mantan pengurus PS.Medan jaya itu menilai struktur permainan Indonesia sejatinya tidak mengalami banyak perubahan dibanding laga sebelumnya saat mengalahkan St. Kitts & Nevis (4-0).
Secara hasil, Indonesia gagal mengangkat trofi. Namun, jika melihat jalannya pertandingan, ada banyak aspek permainan yang menunjukkan perkembangan, sekaligus menyisakan banyak catatan penting yang perlu segera dibenahi.
“Di belakang trio Justin Hubner, Rizky Ridho, dan Jay Idzes dikembalikan dan terlihat lebih padu dalam mengorganisasi pertahanan Indonesia,” katanya
Solidnya lini belakang membuat Indonesia cukup mampu meredam tekanan lawan. Koordinasi antarpemain bertahan terlihat lebih rapi, terutama dalam menjaga garis pertahanan dan mengantisipasi serangan balik.
Meski pertahanan tampil disiplin, masalah utama Timnas Indonesia justru muncul di sektor tengah. Timnas Indonesia dinilai kesulitan membangun serangan efektif karena tidak memiliki gelandang kreatif yang mampu membuka ruang.
“Di babak pertama kita bisa melihat timnas sulit mendekati gawang Bulgaria karena ketiadaan gelandang kreatif untuk membongkar struktur pertahanan lawan yang solid,” kata nya
Bulgaria sebut Boy tidak terpancing permainan cepat Indonesia, khususnya dari sektor sayap. Selain itu, tim asuhan pelatih Aleksandar Dimitrov tersebut juga tampil tenang saat menghadapi tekanan tinggi.
“Bulgaria pintar memainkan dan menjaga ritme yang mereka butuhkan untuk meladeni permainan cepat Indonesia dari kedua sayap,” kata jurnalis olahraga senior itu.
“Mereka tidak mudah panik saat garis pertahanan Indonesia maju tinggi. Ketenangan Bulgaria jadi kunci untuk menjaga ritme,” sambungnya.










