Medan – Pertandingan Liga 4 Piala Gubernur Sumatera Utara 2025–2026 masih diwarnai sejumlah catatan khususnya terkait kepemimpinan wasit.
Ketua Asosiasi Wasit Sumatera Utara Yu Abdillah, menyayangkan beberapa keputusan wasit selama pertandingan liga 4 Sumatera Utara. Ada beberapa insiden yang membuat pertandingan cedera. seperti laga penentu Pelita Medan Soccer vs Satria Muda yang membuat official Pelita Medan Soccer berang.
Begitu juga laga Batubara United vs Paya Bakung. Yang wasit membiar kan pemain Paya Bakung lepas jebakan offside meski posisi nya sudah offside. Padahal PSSI Sumut telah melakukan penyegaran wasit dan diharapkan mampu menciptakan kepercayaan dan menjadikan Liga 4 Sumatera Utara berlangsung secara sehat dan menjunjung tinggi nilai fair play. Kompetisi yang sehat dan adil akan berdampak pada kemajuan sepak bola Sumut ke depan.
“Kunci kompetisi yang sehat ada pada wasit. Jika wasit berlaku adil dan bijaksana, maka apa pun keputusannya akan bisa diterima. Itulah fokus utama pada Liga 4 Piala Gubernur Sumatera Utara kali ini,” sebut Ketua Asosiasi Wasit Sumatera Utara Yu Abdillah melalui pesan wasthap, Minggu (12/4)
Pria yang akrab disapa Abdi ini mengaku dalam kompetisi pasti ada human error atau kesalahan wasit yang di buat pengadil dilapangan. “Kalau ada kesalahan, semua harus siap bertanggungjawab dan mengevaluasi agar kedepannya bisa lebih baik lagi” ujarnya
Yu Abdillah minta bahwa sebelum pertandingan semyfinal digelar, PSSI Sumut mengambil langkah preventif dengan memanggil seluruh wasit yang bertugas. Dalam pertemuan tersebut, ia menekankan pentingnya menjaga integritas dan netralitas dalam memimpin pertandingan.
“Sebelum semifinal, PSSI Sumut harus sudah memanggil seluruh wasit dan menyampaikan agar menjaga integritas, memimpin dengan bermartabat, tidak boleh disogok oleh siapa pun, dan harus netral tanpa memihak tim mana pun,” ujarnya.
Menurutnya, atmosfer pertandingan semifinal dan final dengan euforia suporter dari tim tim yang akan bermain serta tekanan tinggi di lapangan dapat memengaruhi kinerja wasit. Ia menilai, jika terjadi kekeliruan dalam pengambilan keputusan, hal tersebut lebih mengarah pada faktor human error, bukan unsur kesengajaan.
“Dalam pertandingan dengan tekanan yang sangat tinggi, kita juga harus memaklumi jika wasit tidak bisa melihat seluruh jalannya pertandingan secara sempurna. Itu bisa saja kesalahan manusia, bukan disengaja,” jelasnya.
Namun demikian, Asprov PSSI Sumut tidak menutup mata terhadap kritik yang disampaikan. Dan diharapkan melakukan investigasi dan evaluasi internal terhadap kepemimpinan wasit pada laga semifinal dan final tersebut.
Apabila dari hasil evaluasi ditemukan adanya unsur kesengajaan yang merugikan salah satu tim, Asprov PSSI Sumut harus memprosesnya sesuai dengan aturan yang berlaku.
“Apapun kritik dan masukan yang disampaikan, kami akan lakukan evaluasi. Jika memang ada unsur kesengajaan yang merugikan tim lain, PSSI harus proses sesuai aturan main,” tegasnya.










